touch every thought with your heart
and u'll see something that was you won in your life

Status FB Seorang Sahabat

10.09
Sempat kutertohok melihat status FB salah satu sahabatku semalam.

“Sayang”

Ya Hanya satu buah kata yang begitu banyak makna. Dan benar, selanjutnya tertera komentar yang membuatku telah merasa memubadzirkan suatu anugerah yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadaku yang begitu dha’if dan hina.

“Sayang jika malam-malam penuh berkah di bulan Ramadhan hanya dihabiskan untuk tidur. ”

Sejujurnya hal itulah yang kulakukan semalam, tidur.

Tidur yang kuniatkan agar malam ini aku segera terbangun, kerana aku tak ingin terlambat bangun untuk mempersiapkan hidangan sahur untuk teman-teman PKLku. Sehingga aku dapat melanjutkan kemesraanku dalam solat malam dan tadarus yang menjadi obat penenang.

Tidur yang kunikmati setelah seharian aku mengikuti pemantauan intake dan pembersihan generator di PLTA tempatku melaksanakan PKL, kemudian kulanjutkan dengan mempersiapkan hidangan berbuka disaat teman-temanku terlelap dalam istirahat mereka.

Tidur yang sebelumnya kuawali dengan tadarus dan doa panjang.

Tidur agar esok hari aku dapat lebih segar dalam menjalankan rutinitasku, dan agar aku tetap dikuatkan untuk menjalani hari esok dengan doa dan dzikir yang kuharap tiada lupa kumunajatkan.

Sejujurnya, aku tak tahu.

Benarkah tidurku semalam menjadi sia-sia?

Ataukah tidurku semalam menjadi buah alasanku semata?

Wallahu a’lam…Hanya Allah yang dapat menilainya…





“Salatmu adalah cahaya ketika manusia tidur terlena… Tidurmu sebagai penghalang bagi salat malammu… Umurmu adalah keuntungan besar bila kau memanfaatkannya… Membiarkan waktu berlalu yang tiada makna dan arti adalah kerugian besar yang tak mungkin dapat ditebus..” (Rabi’ah al-Adawiyyah)


Ya Allah…Ya Rabb…
Jangan biarkan hamba menjadi orang yang merugi...
Kuatkanlah hamba untuk melawan sesuatu yang menghalangi hamba untuk kembali menemui-Mu dengan segenap hati dan mata yang terbuka… Amin…


Terimakasih sahabat, karena telah kau bantu aku memahami erti hidupku...

Kebumen, 05 Ramadhan 1430 H
Read On 1 komentar

Realitas Hati

13.38

Terlahir dari kasih sayang dan cinta tulus. Sebuah mahligai indah yang bermuara kepada Allah, Rabbnya. Adalah sebait doa yang melagu dalam alunan batin, yang mendayu merdu merasuki alam bawah sadar yang terus saja berlari tak tentu arah.

Mengecap sebuah kehidupan dramatis, penuh dilema dan dihiasi pernik polah tingkah khas remaja yang kemudian beralih seiring waktu menjadikannya dewasa. Layaknya layang-layang yang tak pernah berhenti tertiup angin, itulah hati yang bersemayam pada diri ini. Kadang angin membawanya meliuk ke kiri, kemudian ke kanan, bahkan kemudian ia berputar tak tentu arah, limbung hingga kemudian terjatuh. Namun satu hal pasti yang ia pertahankan adalah, ia tak ingin benang yang mengikatnya terputus. Karena benang itulah yang akan membawanya kembali pada gulungan makna kehidupan. Sebuah harapan yang tetap membuatnya yakin bahwa ia diciptakan untuk memenuhi fitrahnya sebagai seorang hamba.

Kehidupan mengajarinya untuk setegar batu karang. Meski terkadang ia menjadi begitu rapuh dan patah dikala ombak terus saja menghujam, tapi ia tetap mencoba untuk bertahan hingga titik penghabisan. Karena ia tahu, hidup ini tidaklah seindah bayang yang tercipta di dalam angan.

Namun saat ia terjaga, ia tak sadar bahwa di depannya berdiri sebuah bayangan hitam yang begitu pongah mengisi setiap detak jantungnya yang membuatnya terus saja merasa tak terkalahkan. Dengan kegembiraan dan senyuman yang mungkin saja dipaksakan atau ditebarkan dengan kesombongan. Membuat dirinya semakin hina karena ketawadhu’an yang telah hilang dari rongga yang terdalam. Menjadikan fikirnya semakin tak sadar bahwa dirinya hanyalah seorang pecundang, yang akan hilang ditelan waktu hingga akhirnya ia bergelut dengan emosi jiwa yang penuh dengan kedha’ifan.

Lalu, Allah menegurnya. Hingga membuatnya terbangun dari mimpi-mimpi kelam. Mimpi yang semakin membuat ia lupa akan rasa malu yang seharusnya menjadi penjaganya. Rasa malu yang seharusnya ia rasa saat ia tak lagi menggenggam ilmunya, rasa malu yang seharusnya ia bangun dikala harta yang dimilikinya tak lagi membawanya berderma, rasa malu yang seharusnya ia cari saat air matanya tak lagi mengalir karena dosa.

Kini, ia hanya dapat bertanya dalam penyesalan. Akankah ia mendapatkan kesucian kembali setelah ia dinodai oleh keruhnya nafsu duniawi. Akankah ia dapat merasa kembali menghamba, dikala kesombongan telah mencabik-cabik kekuatan fikirnya. Akankah ia layak mencium aroma syurga, dikala neraka mungkin telah siap menyambut kedatangannya.

Dan ia pun kembali meneteskan air mata, entah sedih, senang, atau mungkin tidak untuk keduanya. Karena ia tahu, air matanya terlalu hina untuk mengantarkan dirinya menuju pintu syurga.

Wonosobo, 01 Ramadhan 1430 H
Read On 0 komentar

Hadirnya Amanah Kan Mendewasakan Kita

09.44
Amanah adalah sebuah anugerah yang Allah berikan sebagai sarana penambah kualitas diri. Amanah adalah sebuah kepercayaan bagi mereka yang dirasa pantas untuk memikulnya, memiliki kesanggupan untuk mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Sebagaimana Allah menitipkan bumi beserta isinya dan kehidupan di dunia untuk dikelola dengan baik oleh manusia, juga sebagaimana ketika sang qiyadah memberikan amanah kepada para jundinya, semua itu dengan dilandasi adanya sebuah kepercayaan.

Kepercayaan ada setelah adanya pertimbangan serta penilaian, kepercayaan pun hadir ketika dirasa perlu adanya proses pembelajaran bagi mereka yang terpilih sebagai pemegang amanah, pun sebuah amanah dapat menjadi sebuah bumerang bagi mereka yang berambisi untuk mendapatkannya menghalalkan segala cara demi mendapatkan semua amanah tersebut.

Keizzahan seseorang dapat diukur dari sejauh mana ia memikul sebuah amanah. Jika ia menjalankannya dengan baik, maka orang-orang di sekelilingnya akan amat menghargai tindak-tanduknya. Namun jika sebaliknya, bisa jadi kepercayaan orang lain terhadapnya akan berkurang, lantas kesempatannya untuk lebih banyak beramal dengan mengemban suatu amanah akan semakin sempit.

Bagi mereka yang mendapatkan keizzahan atas amanah yang berhasil diembannya dengan baik, tidak menjadikan langkahnya terhenti hanya sampai di situ, melainkan Allah memberikannya kemampuan dan kesanggupan untuk mengemban amanah selanjutnya. Juga tidak menjadikannya angkuh serta terserang penyakit-penyakit hati yang dapat mengikis amalannya hingga habis, karena ia selalu menyandarkan segala sesuatunya pada Allah. Menyadari bahwa dalam mengemban sebuah amanah itu tidaklah mudah, banyak hal yang perlu kita jaga, termasuk di dalamnya kesesuaian sikap.

Jadi, jangan dulu bangga dengan apa yang kita punya jika kita belum berhasil memeliharanya. Ada apa dengan kata memelihara? Ya, memelihara lebih sulit jika dibandingkan dengan memiliki, menemukan, ataupun mencari sepakat?! Apalagi dalam merealisasikan ilmu yang susah payah kita dapatkan perlu perjuangan ekstra keras. Wallahu a'lam, semoga Allah senantiasa memudahkan kita.

Umar berkata, "Kita adalah umat yang telah Allah berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimana pun juga kita mencari kejayaan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan pada kita." Kejayaan yang lain tersebut berarti sebuah kejayaan yang tidak dilandasi oleh Islam, alias tidak karena Allah SWT. Oleh karena itu, kita perlu memperbaharui niat sebelum melangkah, sebelum mengambil tindakan segala sesuatu yang akan kita kerjakan. Jadi, semoga dengan hadirnya sebuah amanah dapat lebih mendewasakan kita.



Penulis : Aini Mardiyah
Disalin : Adhiem_chan
Sumber : www.Kotasantri.com
Read On 0 komentar

Meraba Ketulusan, Adakah Bagian yang Hilang?

09.00
Meraba ketulusan, masih utuhkah? Atau ada bagian yang hilang? Ketika tiba-tiba rasa yang tak biasanya menyeruak dari tempat terdalam sanubari, menyentil kepekaan jiwa seiring jatuhnya kesadaran. Sempat terpikir, mungkin hanya imajinasi rasa yang ingin sejenak bermain-main di tengah rutinitas yang kadang memahat kreativitas. Namun semakin diselami, semakin dalam menenggelamkan pengembaraan pikiran.

Ada hati yang menggugat lantang, mendapati kamuflase dari sisi diri yang sering dianggap baik dan menyenangkan. Sudahlah kawan, simpan saja kata-kata itu, tolong simpan saja kata; “Jangan berkata begitu.”, “Kamu luar biasa.”, “Kata-katamu dalam sekali.”, “Kamu memang smart.”, “Bla bla bla...”, karena itu adalah kebohongan sisi diri yang lain.

Saat ini, aku tak membutuhkan pujian-pujianmu dan memang sesungguhnya tak pernah. Karena hanya akan menciptakan jarak yang tak seharusnya ada. Hanya membuatku kembali dan kembali meraba ketulusan untuk segala gerak yang terlakukan. Untuk segala amal yang diniatkan sebuah kebaikan.

Jangan tertipu dengan baikku, karena jelas ada sisi buruk yang mungkin kau belum mengenalnya. Jangan kagumi dengan apa yang kau lihat, karena bisa jadi kau akan muntah jika mengetahui yang tersembunyi.

Haruskah kukatakan padamu aib-aib diri ini, sementara Allah yang Maha Penyayang telah menutupinya? Ia menjadikannya sebagai pelucut diri agar selalu lebih baik dan baik lagi. Bukankah setiap kita telah ditakdirkan memiliki kelebihan dan kekurangan, kebaikan dan keburukan?

Kawan, ingatkan aku! Jangan puji aku! Karena pujianmu membuatku tak menginginkan apa pun lagi, membuatku seperti ingin meloncat untuk jatuh, atau mematahkan sayap untuk terbang, membuatku menginginkan lilin di benderang duniaku, membuatku meraba ketulusan berulang kali untuk sekedar memastikan tak ada bagian yang hilang.

Kawan, jangan membuatku muak dengan segala hal yang kini ada. Maafkan aku, karena kali ini aku tak hanya menyalahkan diriku sendiri, tapi juga turut serta menyalahkanmu.

***

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah SWT.




Penulis : Rifatul Farida
Disalin : Adiem_chan
Sumber : www.kotasantri.com
Read On 0 komentar

Ryousai Kenbo : Istri yang Baik, Ibu yang Bijaksana

08.45
Saat ini, istilah "Ryousai Kenbo" bagi segian masyarakat Jepang mungkin terkesan kuno. Secara terminologi, arti dari Ryousai Kenbo adalah istri yang baik bagi suami (ryousai) dan ibu yang bijaksana bagi anak (kenbo). Sedangkan dilihat dari peranan, arti harfiah istilah tersebut adalah "laki-laki bekerja di luar, istri menjaga rumah."

Istilah ini merupakan suatu dambaan idealis dalam menjalankan rumah tangga. Dimana suami bertugas dalam urusan 'luar negeri' keluarga, sedangkan istri bertugas dalam urusan 'dalam negeri' keluarga. Ada pembagian tugas yang pasti. Tidak salah jika pemahaman ini banyak dianut oleh orang-orang Jepang jaman dahulu, terutama di jaman Meiji.

Sejalan dengan perkembangan pendidikan kaum perempuan, istilah ryousai kenbo ini dianggap tidak lagi menjadi 'trend'. Ditambah dengan makin meluasnya lapangan kerja bagi wanita, istilah dan peran istri tersebut seolah terlupakan. Menjadi ibu rumah tangga dianggap tidak memiliki kontribusi apa-apa. Menjadi wanita karir dirasa lebih terhormat. Tidak salah jika angka perceraian di Jepang saat ini semakin meningkat. Diperkirakan 1 hari, 3 dari 4 pasangan suami istri melakukan perceraian.

Rupanya pergeseran nilai seperti ini tidak hanya terjadi di dalam masyarakat Jepang. Di Indonesia pun kecenderungan wanita karir lebih dihormati daripada seorang ibu rumah tangga sepertinya mulai dirasakan. Ada beberapa pandangan masyarakat yang kurang menghargai peran ibu rumah tangga. Apalagi jika perempuan tersebut memiliki latar belakang pendidikan tinggi, pilihan menjadi ibu rumah tangga tentu akan menjadi tanda tanya besar. Kok mau sih sekolah tinggi-tinggi hanya jadi ibu rumah tangga?

Pandangan miring seperti ini, nyatanya semakin diperparah oleh ibu rumah tangga itu sendiri. Perempuan yang memegang peranan menjadi ibu rumah tangga, kadang merasa tak percaya diri akan kemampuan dirinya. Minder jika berhadapan dengan lingkungan yang dianggapnya berada di luar wawasannya. Ia lebih senang berkutat dalam lingkungan rumah tangganya, tanpa mau mengembangkan sayapnya melihat perkembangan dunia luar. Potensi-potensi baik yang ada pada diri perempuan tersebut, seolah mati bersamaan dengan pilihannya menjadi ibu rumah tangga.

Hal ini akan semakin buruk jika sang suami tidak pernah mendukung perannya dalam rumah tangga. Seoalah semua urusan anak, dapur, makanan, tetek bengek keluarga adalah mutlak harus dikerjakan sang istri yang nota bene ibu rumah tangga. Semua potensi dan keahliah istri terkubur di dalam rumah tangga.

Menjadi ibu rumah tangga, memang menjadi satu pilihan bagi seorang perempuan setelah pernikahan. Namun status tersebut, bukanlah penghalang baginya untuk tetap menjadi profesional. Menjadi ibu rumah tangga, justru harus dijadikan pacuan untuk lebih maju. Jika kita tidak maju, bagaimana bisa mendidik anak-anak yang cerdas? Bagaimana bisa mengimbangi suami saat berbagi pengalamannya di luar rumah? Bagaimana bisa berkontribusi dalam masyarakat?

Tidak ada istilah kuper bagi seorang ibu rumah tangga. Kembangkan wawasan di sela-sela aktifitas rumah tangga. Isi waktu dengan hal-hal yang lebih berguna untuk mengembangkan bakat, minat, ataupun kemampuan yang ada. Jangan memanjakan diri hanya pada kesenangan pribadi saja, seperti rajin menikmati drama-drama mengharu biru, telenovela bersambung, ataupun gosipan yang tak perlu.

Jadilah seorang ibu rumah tangga pendamping suami yang dapat dibanggakan serta menjadi narasumber bagi anak yang dapat diandalkan. Tak tampil bukan berarti tak perperan. Mengubah paradigma ibu rumah tangga tak terhormat, ibu rumah tangga tak bergengsi, ataupun ibu rumah tangga tak berperan sudah merupakan keharusan yang tak bisa ditawar lagi bagi setiap orang yang menjalankan peran ibu rumah tangga.

Tidak ada salahnya menghidupkan kembali istilah "Ryousai Kenbo" (Istri yang baik, ibu yang bijaksana). Suatu istilah yang mengangap peran ibu rumah tangga adalah karir terhormat. Karena tidak semua orang bisa menjadi istri yang baik dan tidak semua orang pula dapat menjadi ibu yang bijaksana.

Bagaimana dengan anda?



Penulis : Lizsa Anggraeny
Disalin oleh : Adhiem_chan
Sumber : www.Kotasantri.com
Read On 0 komentar

Followers

Mengenai Saya

Foto saya
Hanyalah ibu dari kedua adik laki-lakiku Yang mencoba untuk tetap bersyukur, atas segala hal yang telah Tuhan anugerahkan Kepadaku. Dan yang terus berusaha mewujudkan mimpi, membina sebuah keluarga kecil yang hidup dalam kejujuran dan cinta...

Arsip Blog